Warga Kemetul Desak Pelaksana Proyek Tol Salatiga Bangunkan Jalan Tani

loading…

Sejumlah warga Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah saat demo di lokasi proyek jalan tol Salatiga – Kartasura, Senin (22/10/2018) petang. SINDOnews/Angga Rosa

SALATIGA – Warga Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mendesak PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) untuk segera membangunkan fasilitas umum (fasum) berupa jalan tani, jembatan seberang, dan talud sungai Penggung.

Apabila hingga 15 November 2018 nanti fasum tersebut belum dibangun atau belum selesai pengerjaannya, warga mengancam akan memblokir lokasi proyek pembangunan jalan bebas hambatan tersebut yang berada di wilayah Desa Kemetul.

“Kemarin sore, warga sempat memblokir lokasi pembangunan jalan tol. Kemudian, pihak JSN dan PT Waskita Karya mengajak berembug dan tercapai kesepakatan. Intinya, PT JSN dan PT Waskita Karya sanggup memenuhi tuntutan warga. Dan hari ini, sudah mulai dikerjakan,” kata Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo, Selasa (23/10/2018).

Menurut dia, permintaan warga mengenai pembangunan fasum tersebut sudah disampaikan sejak pembangunan jalan tol dimulai, tepatnya pada 2017. Namun permintaan warga tidak segera direalisasikan hingga akhirnya warga jengkel dan demo di lokasi proyek jalan tol.

“Kami sudah beberapa kali berkirim surat ke pihak terkait. Namun oleh PT SJN maupun PT Waskita Karya warga hanya dijanjikan. Akhirnya kemarin (23 Oktober 2018 sore) warga demo lagi dan aspirasi warga baru dipenuhi hari ini,” ujarnya.

Adapun fasum yang diminta warga antara lain, jalan tani sepanjang kurang lebih 300 meter di sisi kanan kiri main road dengan lebar menyesuaikan kondisi sisa lahan di lapangan. Kemudian, jembatan seberang di kanan dan kiri sungai Penggung, talud outlet sungai Penggung dan pemindahan pagar berduri yang disesuaikan dengan gambar.

“Warga minta pembangunan fasum tersebut selesai pada 15 November 2018. Jika hingga batas waktu tersebut pekerjaan belum selesai, kami akan menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan terlebih dahulu. Tapi jika tidak ada solusi, keputusan kami serahkan kepada warga,” pungkas Agus Sudibyo.

(wib)

You may also like :