Puluhan Tahun Warga Salule’bo’ Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Deras

loading…

Warga Desa Salule’bo’ Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, menyeberangi sungai berarus deras dengan menggunakan rakit seadanya. Foto/Joni Banne Tonapa

MAMUJU TENGAH – Di tengah gencarnya pembangunan jalan dan jembatan di Tanah Air oleh pemerintah pusat, warga di Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat justru berjuang sendiri menghadapi ketertinggalan.

Miris, selama puluhan tahun ribuan warga Desa Salule’bo’, Kecamatan Tobadak harus menyeberangi sungai berarus deras menggunakan rakit seadanya. Warga Desa Salule’bo harus rela menerobos derasnya arus sungai saat menyeberangi sungai dengan lebar kurang lebih 100 meter.

Mereka bertaruh nyawa selama puluhan tahun tanpa perhatian dari pemerintah. Padahal jarak Desa Salule’bo dengan ibu kota pemerintahan Kabupaten Mamuju Tengah hanya berkisar 30 Km. (Baca Juga: Aksi Heroik Polisi Evakuasi 2 Pasien Lewati Sungai Berarus Deras)

Baca Juga:

Tak hanya itu, warga yang akan menyeberang juga harus merogoh koceknya sebesar Rp7.500 sampai Rp15.000 untuk sekali menyeberang. Sementara petani yang hendak menjual hasil bumi ke ibukota Kabupaten Mamuju Tengah harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membayar pengemudi rakit.

Kondisi ini sudah dirasakan warga sekitar puluhan tahun. Namun hingga saat ini ribuan warga transimigrasi di wilayah tersebut harus menelan pil pahit karena tidak ada upaya dilakukan pemerintah. Padahal jalur ini adalah jalur alternatif warga menuju kota kabupaten karena jalan yang dibuat pemerintah saat ini kondisi rusak parah dan jaraknya sangat jauh.

“Jalur ini digunakan ribuan warga Desa Salule’bo’ untuk menyeberang, namun kami harus membayar rakit untuk satu kali menyeberang mulai dari Rp7.500 sampai Rp15.000 tergantung kondisi air sungai dalam satu kali menyeberang,” kata Rustang, warga Salule’bo’. (Baca Juga: Jembatan Putus, Ibu Bawa Bayinya Naik Rakit Seberangi Sungai)

Sementara Andi, pemilik rakit mengaku mendapat penghasilan mulai dari Rp500.000 sampai Rp1.500.000 perhari tergantung dari banyaknya warga yang menyeberang dan mengeluarkan hasil tani untuk dijual ke kota kabupaten.

“Pemasukan tergantung dari banyaknya warga yang menyeberang. Kalau hari-hari biasa kadang Rp500.000. Tapi kalau hari pasar atau pas banyak hasil panen yang warga mau jual ke pasar kadang penghasilan sampai Rp1.000.000 perharinya,” ujar Andi.

(rhs)

You may also like :