BPBD Sitaro Lakukan Sosialisasi Siaga Darurat Gunung Karangetang

loading…

Gunung Karangetang kembali menunjukkan aktivitasnya sejak Desember 2018. Gunung yang terletak di Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, terus dipantau oleh BPBD Sitaro. Foto/Subhan Sabu

SITARO – Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, memiliki dua gunung api aktif, yakni Gunung Ruang dan Karangetang. Gunung Ruang terakhir kali erupsi pada tahun 2015. Gunung api yang bertipe strato dengan ketinggian 725 meter di atas pemukaan laut ini berada di Pulau Tagulandang.

Berbeda dengan Gunung Karangetang yang seolah tidak pernah tidur. Beberapa waktu belakangan, gunung api setinggi 1.820 meter di atas permukaan laut itu kembali menunjukkan aktivitasnya sejak Desember 2018 lalu. Selain itu ada letusan kecil pada November 2018 sehingga sejak 20 Desember 2018 status Karangetang dinaikkan menjadi siaga level III.

“Pemda Sitaro juga telah menetapkan status kebencanaan siaga darurat erupsi Karangetang sejak 8 Januari 2019,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sitaro, Bob Wuaten, Rabu (23/1/2019).

Baca Juga:

Gunung Karangetang meletus besar pada tahun 1974 dengan memuntahkan lahar panas dari kawah areng kambing dan menimbulkan gempa vulkanik tektonik hingga 7 SR menyebabkan ribuan warga Pulau Siau mengungsi ke luar Siau, di antaranya ada yang ke Minahasa, Bolaang Mongondow dan Gorontalo.

Aktivitas Karangetang tiga tahun belakangan paling besar terjadi tahun 2015 yang menyebabkan 300 lebih warga harus diungsikan ke daerah aman di Siau, 5 rumah rusak berat dan 1 dusun Kola-kola di Kelurahan Bebali Kecamatan Siau Timur tertimbun abu vulkanik/lava

“Mengingat Pulau Siau adalah pulau gunung api, sehingga pemukiman penduduk berada di kaki atau lereng gunung Karangetang, maka jika terjadi letusan yang besar maka ancaman bencana sangat tinggi,” jelas Kaban BPBD Sitaro, Bob Wuaten.

Namun, meski sangat aktif dengan gempa dan gemuruh yang rutin terjadi, tidak ada catatan kejadian bencana tsunami yang diakibatkan oleh letusan gunung Karangetang dimana sesuai sejarah potensi gempa besar ada karena tahun 1974 tercatat terjadi gempa vulkanik/tektonik 7 SR.

Meski seluruh wilayah pulau Siau rawan gempa, kondisi ini membuat masyarakat sangat antisipatif dan familiar dengan keadaan sekitar Karangetang sehingga hal ini sangat membantu Pemda dalam melakukan langkah-langkah pencegahan dan kesiapsiagaan bencana gunung meletus.

Secara rutin melalui program kerja, BPBD Sitaro juga sudah melakukan kesiapsiagaan dan pencegahan berupa peningkatan kapasitas stakeholder khususnya masyarakat melalui sosialisasi, edukasi, advokasi dan simulasi di tingkat Kabupaten dan Desa.

“Khusus untuk siaga darurat erupsi Karangetang saat ini sudah dilakukan sosialisasi tentang situasi dan kondisi Karangetang. Termasuk pembentukan posko siaga darurat dan rencana simulasi erupsi Karangetang, jika terjadi hujan abu segera didistribusikan masker dan lain-lain,” tambah Kaban BPBD Sitaro, Bob Wuaten.

Selain itu, edukasi berupa pemahaman pentingnya menjaga lingkungan dan alam seperti jangan memburu atau menembak hewan endemik seperti burung Maleo dan hewan-hewan lainnya. “Karena secara alamiah hewan yang ada di daerah ketinggian akan turun jika terjadi perubahan suhu sehingga bisa menjadi peringatan dini kalau kita peka terhadap lingkungan,” pungkasnya.

(rhs)

You may also like :