14 Hari Tanggap Darurat Bencana di Sulsel, 69 Meninggal dan 7 Hilang

loading…

Gubernur Sulsel telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari yaitu tanggal (23/1/2019) hingga (6/2/2019). Dokumen/SINDOnews

MAKASSAR – Guna mempermudah dan mempercepat penanganan bencana banjir, longsor, puting beliung, dan abrasi di wilayah Sulawesi Selatan, maka Gubernur Sulsel telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari yaitu tanggal (23/1/2019) hingga (6/2/2019).

Status tanggap darurat dapat diperperpanjang sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan penetapan status darurat oleh Gubernur maka ada kemudahan akses, baik penggunaan anggaran dari alokasi belanja tak terduga di APBD dan penggunaan dana siap pakai di BNPB.

“Selain itu juga kemudahan akses pengerahan personel, logistik, peralatan, pengadaan barang dan jasa serta adminsitrasi. Intinya adalah agar penanganan dampak bencana dapat dilakukan cepat, tepat dan akurat,” ujar Sutopo, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, dalam pernyataan tertulis yang diterima SINDOnews.

Baca Juga:

Dikatakan, Penanganan darurat masih terus dilakukan di Sulsel. Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban, penanganan pengungsi, perbaikan sarana dan prasarana dilakukan.

“Bencana banjir, longsor dan putting beliung terjadi di 201 desa di 78 kecamatan tersebar di 13 kabupaten/kota yaitu di Kabupaten Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap, Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai. Dampak bencana per 28/1/2019 tercatat 69 orang meninggal, 7 orang hilang, 48 orang luka-luka, 9.429 orang mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 559 unit rumah rusak (33 unit hanyut, 459 rusak berat, 37 rusak sedang, 25 rusak ringan, 5 tertimbun), 22.156 unit rumah terendam, 15,8 km jalan terdampak, 13.808 Ha sawah terdampak, 34 jembatan, 2 pasar, 12 unit fasilitas peribadatan, 8 Fasilitas Pemerintah, dan 65 unit sekolah,” jelasnya.

Lebih jauh Sutopo mengatakan, sebagian besar banjir sudah surut di daerah. Sebagian pengungsi sudah pulang ke rumahnya, namun sebagian masih tinggal di pengungsian.

“Masyarakat yang berada di pengungsian karena rumahnya rusak berat, mengaku merasa lebih nyaman di pengungsian karena takut adanya banjir dan longsor susulan,” pungkasnya.

(nag)

You may also like :